Pemandu Wisata sebagai Alternatif Lapangan Pekerjaan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga

Kemah & Riset

14-16 Mei 2010

Disusun Oleh:

  1. Titania Aulia                    I34070052
  2. Risna Noviati                   I34080021
  3. Opang Sunandang           I34080089
  4. Rahmawati                       I34070019
  5. Megah Stefani                  I14080040
  6. Rahayu Kania Rukmana  I14080008

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kampung Naga yang terletak di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah kampung yang unik dan sering disinggahi oleh para wisatawan dalam maupun luar negeri. Hal ini membuat para warga Kampung Naga beralternatif untuk membuat kawasan Kampung Naga menjadi salah satu obyek wisata Kabupaten Tasikmalaya. Dengan inisiatif dari kuncen Kampung Naga, maka jadilah Kampung Naga sebagai obyek wisata yang sering disinggahi oleh para wisatawan dari luar ataupun dalam negeri sebagai. Kampung Naga sering dijadikan tempat untuk berwisata ataupun tempat untuk penelitian.

Dengan adanya wisata Kampung Naga membuat sendi-sendi kehidupan baru bagi warga Kampung Naga. Terbukanya lapangan pekerjaan baru sebagai dampak adanya obyek wisata Kampung Naga sangat menarik untuk diteliti. Dan juga bagaimana wisata Kampung Naga dapat berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga warga Kampung Naga.

1.2    Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pekerjaan sebagai pemandu wisata dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga warga Kampung Naga ?
  2. Peranan pemandu wisata sebagai lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat Kampung Naga ?

1.3. Tujuan

  1. Mengetahui peran pemandu wisata untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga masyarakat kampung Naga.
  2. Mengetahui peranan pemandu wisata sebagai lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat kampung Naga.

1.4     Manfaat penelitian

  1. Dari segi akademis, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian-penelitian terkait yang akan dilaksanakan.
  2. Dari segi sosial, dapat memperoleh penjelasan mengenai peranan pemandu wisata sebagai lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat Kampung Naga dan sejauh mana pekerjaan sebagai Pemandu Wisata dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Kampung Naga.
  3. Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan suatu kebijakan yang tepat bagi masyarakat pedesaan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Waktu Dan Lokasi Observasi

Observasi dilakukan di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Saluwu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Waktu observasi lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 14-16 Mei 2010.

3.2   Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:

  1. Pengamatan langsung
  2. Wawancara responden dan informan.

Kami mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui pengamatan langsung dan wawacara mendalam dengan para informan dan responden. Para informan dan responden tersebut terdiri atas warga desa penelitian, tokoh masyarakat serta pejabat pemerintahan. Sementara itu, untuk data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur serta catatan-catatan instansi terkait dan pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkapan informasi yang dibutuhkan.

3.3     Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data diperoleh melalui pengamatan secara langsung, dan hasil wawancara  pada responden (petani Desa Gunung Malang) yang mengetahui seluk-beluk tentang wisata Kampung Naga. Informasi tambahan untuk melengkapi penelitian diperoleh melalui wawancara kepada informan yang dalam hal ini adalah salah satu tokoh Kampung Naga, yaitu Ketua RW Kampung Naga. Setelah itu data  yang diperoleh akan kami analisis menggunakan metode pengolahan kualitatif.

BAB IV

Gambaran Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya

Awal penamaan dari kampung Naga yaitu berasal dari kata Nagawir, dimana dari kata gawir itu merupakan sebuah tebing atau hutan yang umumya berada di daerah tebing, sedangkan untuk awalan “na” hanya sebagai pelengkap. Kampung Naga terletak di Desa Neglasari kecamatan Salawu kabupaten Tasik malaya.   Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya. Perbatasan dari timur 1,5 ha tepat di sungai Ciwulan, sedangkan dari utara dan selatan sekitar 2 ha tepatnya di area saluran. Di kampung Naga terdiri dari 113 bangunan hal tersebut dikarenakan luas arealnya yang terbatas sehingga tidak bisa membuat bangunan, oleh karena itu sekitar 90% penduduk asli kampung Naga pindah ke kota, akan tetapi setiap hari-hari besar mereka pulang ke kampungnya. Selain dari itu juga  kampung Naga terdiri dari 110 tempat tinggal, 110 kepala keluarga, dan sebesar 314 jumlah penduduknya dari usia pada masa bayi sampai lanjut usia.

Bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali. Mata pencaharian yang utama yang dilakukan masyarakat Kampung Naga adalah bertani, walaupun mereka bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi (subsisten) dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kampung Naga dengan adanya lumbung padi (Leuit) yang harus diisi dari sumbangan padi tiap warga Kampung Naga . Di samping itu banyak juga yang beternak ikan dan kambing, ini pula dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang). Bentuk bangunan di Kampung Naga sama, baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

BAB V

PEMBAHASAN

4.1 Peranan Pemandu Wisata sebagai Lapangan Pekerjaan Alternatif bagi Masyarakat Kampung Naga

Pada umumnya masyarakat di Kampung Naga mempunyai mata pencaharian utama di bidang pertanian sebagai petani. Adapun hasil dari bertani ini hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari yang sering disebut dengan subsisten dan mereka menyimpannya di dalam lumbung padi rumah. Pada musim panen, masyarakat terlihat aksi gotong royong mulai dari memanen padi hingga memasukkannya ke dalam lumbung. Hasil panen yang dilakukan hanya dua kali dalam setahun, sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan. Maka, masyarakat Kampung Naga melakukan pekerjaan sambilan sebagai alternatif nafkah, antara lain sebagai pengrajin yang hasilnya dijual, penjual yang menjualkan barang dari masyarakat Kampung Naga atau menukar hasil kerajinan tersebut dengan barang dari raja pola, guide, dll.

Bahan baku kerajinan yang mampu dibuat oleh masyarakat di Kampung Naga berasal dari bambu karena jumlah bambu yang mudah didapat atau membeli dari warga yang memiliki. Kerajinan ini dapat berupa tirai, tatakan minuman, dll. Adapun barang dari raja pola, yaitu tas, sandal, topi yang dapat diubah menjadi kipas, pensil kayu, dll. Pendapatan yang diperoleh dari pengrajin ini tidak menentu tergantung dari penjual yang menjajakan barang dagangannya. Pendapatan penjual kerajinan yang menjajakan barang dagangannya ini juga tergantung dari para wisatawan yang datang setiap bulannya. Namun, pada saat liburan, seperti hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional dapat meningkatkan keuntungan dibandingkan hari biasa.

Guide di Kampung Naga berjumlah 13 orang. Guide ini bekerja secara bergiliran. Guide yang berada di Kampung Naga sudah terorganisasi, mereka memiliki seragam dan identitas pengenal. Kampung Naga sangat memperhatikan masalah pemandu wisata, mereka bahkan menyelenggarakan pelatihan bahasa asing mulai dari Bahasa Inggris, Jepang, dll. Hal ini dilakukan agar para pemandu terampil dan dan dapat bekerja secara profesional pada saat menghadapi para wisatawan asing.

4.2 Peranan Pemandu Wiasata dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga

Mata pencaharian utama Masyarakat Kampung Naga adalah bertani, tetapi inipun dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau subsisten. Dan para warga memerlukan mata pencaharian lain sebagai alternatif untuk mencukupi kebutuhan mereka. Dengan adanya wisata Kampung Naga, maka dapat membuka lapangan pekerjaan baru sebagai alaternatif mata pencaharian warga Kampung Naga. Pengrajin dan pamandu wisata adalah contoh lapangan pekerjaan yang timbul dari adanya wisata Kampung Naga. Adanya pekerjaan alternatif menjadi pemandu wisata dan pengrajin dapat membuat meningkatnya kesejahteraan ekonomi keluarga.

Ibu Cucu yang merupakan warga asli Kampung Naga yang bekerja sebagai penampung kerajinan dan penjual selama 7 tahun, menjual barang dagangan masyarakat Kampung Naga dan dari raja pola dapat memperoleh sekitar Rp 1.000.000,00. Itupun belum termasuk modal. Sementara Ibu Dede mulai berjualan sejak masih kecil dan memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 400.000,00. Rata-rata para penjual menjajakan barang dan harga yang tidak jauh berbeda. Namun, mereka tidak saling berkompetisi dalam mendapatkan keuntungan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1 Kesimpulan

Desa Gunung Malang Kampung Cimanggu memiliki kearifan lokal untuk peningkatan hasil pertanian dan pemeliharaan lingkungan hidup. Kearifan lokal tersebut meliputi sistem penggalan yang juga disebut sistem penanggalan Sunda digunakan untuk menentukan musim tanam sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian dan juga menghindari hama. Kearifan lokal lainnya adalah pengikatan daun ke pohon untuk menjaga pohon dari serangan hama dan agar pohon cepat berbuah. Kearifan local lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung.

Kearifan local tersebut di atas dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam  kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam. Pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida berbahaya dan menggantinya dengan pupuk alami dan pestisida nabati merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan pekerja-pekerja pertanian saat ini.

Kearifan lokal yang ada di kampung Cimanggu berupa gotong royong dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang membuang sampah diselokan. Sistem kearifan lokal  yang berupa sistem penanggalan pertanian sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan.

6.2  Rekomendasi

Desa Gunung Malang khususnya Kampung Cimanggu adalah desa yang memiliki kearifan lokal. Kearifan lokal ini kini hampir hilang dari masyarakat. Padahal, kearifan lokal ini telah berkontribusi dalam memelihara lingkungan hidup dan telah meningkatakan hasli pertanian. Sistem pengetahuan modern adalah salah satu penyebab tidak eksisnya sistem ini. Ada baiknya kalau sistem ini dipelihara dalam bentuk catatan atau dokumen ilmu pengetahuan tradisional Indonesia agar sistem ini selalu diingat menjadi sumber pengetahuan dari masa yang lampau. Meskipun sistem pengetahuan ini tidak digunakan atau bertentangan sistem nilai masyarakat sekarang tetapi budaya indonesia harus tetap dilestarikan sebagai bentuk arsip tradisional desa-desa Indonesia.

MK. Pengantar Ekonomi Kelembagaan         Hari/Tanggal   : Senin / 24 Mei  2010

ESL                                                                 Ruangan          : RK. B1 C1

“Nilai-nilai dan Norma Suatu Komunitas Pendaki Gunung dalam Pemeliharaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan”

Nama Dosen

KASTANA

Oleh :

Kelompok 2

  1. Alex L Raja                             (I34080019)
  2. Risna Noviati                         (I34080021)
  3. Chrismasopy Bintari               (I34080036)
  4. Dian Hermawati                      (I34080074)
  5. Dewi Sartika                           (I34080143)

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar belakang

Komunitas diartikan sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak” (Wikipedia).

Komunitas Pendaki Gunung yang bergelut dalam kegiatan alam memiliki nilai dan norma atau pedoman perilaku dalam berkegiatan di alam bebas. Hal ini menjadi menarik pada saat kita membahas bagaimana nilai dan norma tersebut diterapkan dan kontribusinya dalam pemeliharaan lingkungan hidup serta Sumber Daya Alam yang tersedia. Karena di setiap komunitas pasti memiliki nilai dan norma tersendiri yang menjadi ciri khas. Nilai dan norma tersebut disepakati dan menjadi acuan komunitas dalam mendorong pola pikir, bertindak, hingga pada tahap pemecahan masalah dalam suatu komunitas tertentu, dalam hal ini Komunitas Pendaki Gunung.

Secara umum, semua komunitas pendaki gunung memiliki nilai dan norma yang disepakati bersama. Biasanya nilai dan norma ini berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan pendakian gunung yang merupakan kegiatan inti. Tujuan dari pendakian gunung ini hanya untuk mengamati dan berusaha menjaga daerah-daerah dakian gunung yang menjadi tempat pemberhentian ataupun tempat tinggal sementara.

Nilai dan norma yang terdapat pada setiap komunitas pendaki gunung adalah nilai dan norma yang tidak tertulis, tetapi menjadi nilai dan norma setiap individu pendaki gunung.

1.2       Rumusan Masalah

  1. Bagaimana suatu nilai dan norma dalam komunitas Pendaki Gunung terbentuk?
  2. Bagaimana penerapan dan penegakan nilai dan norma tersebut?
  3. Bagaimana nilai dan norma tersebut mempengaruhi Sumber Daya Alam dan lingkungan?

1.3       Tujuan

  1. Meninjau kelembagaan informal dalam komunitas.
  2. Mengetahui nilai dan norma yang terbentuk dalam komunitas Pendaki Gunung.
  3. Mengetahui cara-cara penegakan suatu nilai dan norma dalam suatu komunitas.
  4. Mengetahui pengaruh nilai dan norma bagi Sumber Daya Alam dan lingkungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Kelembagaan Informal

Kelembagan adalah aturan main (rule of the game) yang berlaku dalam sebuah masyarakat/komunitas/organisasi yang disepakati oleh anggota masyarakat/komunitas/organisasi tersebut sebagai sesuatu yang harus diikuti dan dipatuhi (memiliki kekuatan sanksi) dengan tujuan terciptanya keteraturan dan kepastian interaksi di antara sesama anggota masyarakat/komunitas/organisasi; terkait dengan kegiatan ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain. (Hidayat, 2007)

Menurut bentuknya (tertulis/tidak tertulis) kelembagan dibagi menjadi formal dan informal (Nort, 1990) :

Kelembagaan formal adalah  peraturan tertulis seperti perundang-undangan, kesepakatan (agreements), perjanjian kontrak, peraturan bidang ekonomi, bisniss, politik dan lain-lain, baik yang berlaku baik pada level international, nasional, regional maupun lokal.

Kelembagaan Informal Kelembagaan yang keberadaannya di masyarakat umumnya tidak tertulis seperti adat istiadat, tradisi, pamali, kesepakatan adat, konvensi dan lain-lain

Jadi, pada intinya perbedaan antara kelembagaan informal dan kelem bagaan formal adalah jika kelembagaan formal peraturan yang dibuat secara tertulis sedangkan kelembagaan informal adalah peraturan yang dibuat secara tidak tertulis yang keduanya merupakan hasil kesepakatan dan memerlukan penegakan (reinforcement) dalam penerapannya.

2.2       Nilai dan Norma

  1. A. Nilai Sosial

Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai norma yang berlaku. Nilai sosial mengacu pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai ketuhanan.

Nilai sosial merupakan kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial merupakan sikap-sikap dan perasaan yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan apa yang penting.

Beberapa ahli sosiologi memberikan batasan pengertian nilai sosial sebagai berikut:

  1. Menurut C. Kluckhon, nilai sosial adalah ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengatasi kemauan pada saat dan situasi tertentu
  2. Menurut Woods, nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dalam kehidpan sehari-hari
    3. Menurut A.W.Green, nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatifj berlangsung disertai emosi terhadap obyek
  3. Menurut Kimball Young, nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa ayng penting

B. Norma Sosial

Norma merupakan hasil cipta manusia sebagai makhluk sosial untuk mengatur hubungan sosial agar dapat berlangsung dengan lancar sehingga menimbulkan suasana yang harmonis. DI dalam kehidupan masyarakat, norma berisi tata tertib, aturan, petunjuk standar mengentai perilaku yang pantas atau wajar. Pelanggaran terhadap norma akan mendatangkan sanksi, dari bentuk cibiran atau cemoohan sampai ke sanksi fisik dan psikis berupa pengasingan atau di usir.

Norma merupakan bentuk nilai yang disertai dengan sanksi tegas bagi pelanggarnya. Norma merupakan ukuran yang dipergunakan oleh masyarakat apakah perilaku seseorang bernar/ salah, sesuai/ tidak sesuai, wajar/tidak, dan diterima atau tidak.

Norma dibentuk di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Nilai dan norma merupakan hal yang berkaitan.

Norma adalah bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Misalnya, nilai menghormati dan mematuhi orang tua diperjelas dan dikonkretkan dalam bentuk norma-norma dalam bersikap dan berbicara kepada orang tua. Nilai-nilai sopan santun di sekolah dikonkretkan dalam bentuk tata tertib sekolah. Secara umun, pengertian norma adalah patokan-patokan atau pedoman untuk berperilaku di dalam masyarakat.

2.4       Komunitas Pendaki Gunung

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.

Komunitas pendaki gunung adalah komunitas yang didirikan dengan dasar kesamaan hoby. Komunitas ini memiliki kegiatan di alam bebas, khususnya dalam pendakian gunung. Biasanya kegiatan pendakian gunung dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menikmati keindahan alam ataupun melakukan ekspedisi sekaligus memperrat tali silaturahmi antar anggota pendaki gunung.

Dalam komunitas pendaki gunung terdapat nilai dan norma yang menjadi dasar pijakan ataupun pedoman palaksanaan kegiatan pendakian gunung.

2.5       Pengelolaan SDA dan lingkungan

“Dalam pengelolaan sumber daya alam ini benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber daya alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi-generasi di masa depan.”Membahas tentang sumber daya alam, dapat kita bagi ke dalam dua kategori besar, yakni sumber daya alam yang bisa diperbaharui (seperti hutan, perikanan dan lain-lain). Dan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, seperti, minyak bumi, batubara, timah, gas alam dan hasil tambang lainnya. Dalam tulisan ini akan kita kaji sumber daya alam berupa hasil tambang dan itu tidak dapat diperbaharui. Membicarakan hasil tambang, tentu timah merupakan salah satunya.

Apalagi timah sangat identik dari sebuah ciri khas sebuah propinsi yang bernama Bangka Belitung. Siapa yang tidak kenal negeri kita jika kita katakan merupakan salah satu pulau penghasil timah di republik ini. Namun, berbicara tentang pengelolaan hasil tambang berupa timah itu sendiri, rasanya sangat malu melihat bagaimana permukaan negeri ini yang telah hancur dan membentuk kolong-kolong kecil sehingga membentuk seperti sebuah danau-danau kecil. Apalagi butuh cost yang sangat mahal untuk reklamasi lahan minimal mengurangi dampak buruk pada masa yang akan datang. Siapa yang akan disalahkan? Bukan pertanyaan itu yang mesti kita jawab.

Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kelestarian sebuah lingkungan hidup. Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan “perut” hal inilah mungkin yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan. Jika kita amati bahwa dapat kita katakan ada hubungan antara jumlah dan macamnya sumber daya alam dengan produk bagi konsumsi masyarakat. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin besar pola konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sumber daya alam yang akan dikelola dan semakin beraneka ragam pola konsumsi masyarakat, maka semakin bermacam pula sumber daya alam yang akan dikelola.

Dari permasalahan tersebut di atas, dapat kita telaah dan mungkin harus menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif terhadap lingkungan sebelum lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Kita amati bagaimana sebuah bencana banjir yang terjadi di Aceh & Sumatera Utara yang diakibatkan penggundulan Taman Nasional, Gunung Leuser, Alikodra (7/12/2006) atau di negeri Serumpun Sebalai sendiri, beberapa minggu terakhir terjadinya banjir yang menggenangi daerah Semabung, Pangkalpinang akibat tidak ada lagi yang menjadi penyerap air di daerah sekitarnya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kawasan hutan memiliki kemampuan dalam mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.

Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka?

Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi-solusi yang mungkin akan ada tindak lanjut ke depannya. Pertama, pemerintah harus lebih giat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Kedua, perlunya inventarisasi dan Evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup. Ketiga, meningkatkan penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan terutama untuk pengembangan pertanian, industri dan kesehatan. Keempat, penyediaan Infra Struktur dan Spasial SDA dan Lingkungan Hidup baik di darat, laut maupun udara. Kelima, Perlunya persyaratan AMDAL terhadap usaha-usaha yang mengarah pada keseimbangan hidup. Terakhir, perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan SDA serta perlunya peningkatan kemampuan Institusi dan SDM Aparatur Pengelolaan SDA dan LH. Karena pembangunan yang baik adalah yang berwawasan lingkungan walaupun terkadang dengan kemungkinan kerusakan untuk ditimbang dan dinilai manfaat untung ruginya dan diambil keputusan dengan penuh tanggung jawab kepada generasi mendatang. Karena generasi yang akan datang, tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan sekarang dalam menentukan penggunaan sumber daya alam yang sebenarnya kita hanya meminjami dari mereka untuk pembangunan masa kini dengan dampak pembangunan di masa nanti!

MK. Ekonomi Pembangunan                                           Hari/Tanggal     : Selasa / 24 Mei  2010

Ruangan        : H-Rek 1

Judul Makalah:

Pergeseran Paradigma Budaya Mistifikasi ke Scientifikasi dalam Proses-Proses Pembangunan

Nama Dosen:

Dr. Widyastuti

Oleh :

  1. Risna Noviati                      (I34080021)
  2. Chrismasopy Bintari         (I34080036)

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pembangunan dapat diartikan sebagai perubahan dalam segala aspek kehidupan baik dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, dll. Perubahan sosial dalam masyarakat merupakan salah satu dampak dari pembangunan. Perubahan sosial sendiri adalah proses, meliputi bentuk keseluruhan dari aspek kehidupan masyarakat (Salim, 2002). Salah satu aspek perubahan sosial yang terjadi di masyarakat adalah budaya. Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur sosial, religius, dll (Herimanto dan Winarno  2008). Budaya menggambarkan kecenderungan pola pikir suatu masyarakat. Perubahan sosial yang sedang gencar-gencarnya terjadi pada masyarakat Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Tetapi, perubahan dalam aspek budaya tersebut masih diwarnai budaya mistifikasi. Budaya mistifikasi yaitu budaya yang masih melekat pada sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan yang sering mengaitkan segala peristiwa dengan hal-hal yang mistis atau irrasional.

Hal ini menjadi menarik karena Indonesia adalah asalah satu Negara yang sedang melakukan pembangunan. Dengan adanya mistifikasi membuat setiap peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dihubung-hubungkan dengan hal- hal yang mistis atau irrasional yang cenderung tidak mendidik masyarakat karena tidak adanya scientifikasi (hal-hal yang bersifat rasional, adanya ilmu pengetahuan di dalamnya). Padahal dasar-dasar pembangunan yaitu adanya perubahan pola pikir masyarakat.

1.2    Perumusan Masalah

Adapun permasalahan yang kami ajukan dalam penulisan ini adalah:

1)       Apa penyebab timbulnya mistifikasi di kalangan masyarakat?

2)       Apa dampak mistifikasi pada pembangunan?

3)       Bagaimana pandangan scientifikasi mendorong masyarakat untuk berpikir lebih rasional terutama dalam proses-proses pembangunan?

1.3    Tujuan Penulisan

1)       Mengetahui penyebab timbulnya mistifikasi di kalangan masyarakat..

2)       Mengetahui dampak mistifikasi pada pembangunan.

3)       Mengetahui pandangan scientifikasi dalam mendorong masyarakat untuk berpikir lebih rasional terutama dalam proses pembangunan.

1.4    Manfaat Penulisan

1)       Bagi kalangan akademis, hasil penulisan ini diharapkan mampu menjadi sumber informasi bagi penulisan selanjutnya yang terkait.

2)       Bagi masyarakat, hasil penulisan ini diharapkan dapat memberi masukan tentang pergeseran paradigma mistifikasi ke scientifikasi agar masyarakat dapat menelaah segala persoalan social dengan lebih rasional.

3)       Bagi kalangan pers, hasil penulisan ini diharapkan mampu menjadi cermin tegaknya nilai-nilai moral yang terkandung dalam pemberitaan media kepada masyarakat luas di Indonesia.

4)       Bagi pemerintah, hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan suatu kebijakan yang tepat mengenai budaya mistifikasi yang merebak pada masyarakat awam, khususnya di pedesaan.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1    Mistifikasi VS Scentifikasi

Mistifikasi adalah budaya yang masih melekat pada sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan yang sering mengaitkan segala peristiwa dengan hal-hal yang mistis atau irrasional. Sedangkan scientifikasi adalah kebalikannya yaitu berusaha mengaitkan segala peristiwa dengan hal-hal yang berbau ilmu pengetahuan yang cenderung rasional.

2.2    Pembangunan

Sesuai dengan perubahan aliran bantuan dari donor-donor, teori-teori pembangunan juga selalu berubah. Setelah Perang Dunia Kedua, dalam kalangan pembangunan, teori modernisasi klasik berpengaruh pada kebijakan bantuan dari Negara maju untuk mendorong modernisasi.

Rostow (1960) menyatakan bahwa proses pembangunan arah modernisasi merupakan sebuah rangkaian tahapan pertumbuhan yang berurutan dan bergerak dalam garis lurus dari masyarakat terbelakang ke masyarakat maju.

Sementara itu, menurut Schoorl (1980), tinjauan dari sudut ekonomi, modernisasi akan bermakna pertumbuhan ekonomi, dari sudut politik, modernisasi akan bermakna pemisahan hubungan antara politik dan agama, dari sudut sosiologi dan antropologi adanya diferensiasi dan pembesaran skala.

Suwarsono dan So (2000) menyatakan satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi, dan perubahan social pada dasarnya merupakan gerakan searah, linear, progresif, dan perlahan-lahan, yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju, dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur serupa.

2.3    Kelembagaan

Konsep kelembagaan adalah sangat penting dalam analisa naik dan jatuhnya sejumlah pengembangan masyarakat yang berorientasi proyek. Menurut Ostorm (1992) mendefinisikan lembaga adalah seperangkat peraturan yang sebenarnya digunakan oleh sekelompok individu untuk mengorganisir kegiatan yang berulang-ulang dimana memproduksi hasil yang mempengaruhi individu dan yang lain.

Kelembagaan merupakan suatu system yang kompleks, rumit, abstrak yang mencakup ideology, hokum adat istiadat, aturan, kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Kelembagaan mengatur apa yang dilarang dikerjakan oleh individu (perorangan atau organisasi) atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu kelembagaan adalah instrument yang mengatur hubungan antar individu.

Kelembagaan sangat penting dalam pembangunan nasional mengingat kontribusinya yang besar dalam memecahkan masalah-masalah nyata dalam pembangunan. Kelembagaan merupakan inovasi manusia untuk mengatur atau mengontrol interdependensi antar manusia terhadap sesuatu, kondisi atau situasi seperti hak pemilikan, aturan representasi dan batas jurisdiksi (Pakpahan, 1990).

2.5  Partisipan

Menurut Culcane (1981) partisipan adalah orang-orang, kelompok atau organisasi yang terlibat dan berpartisipasi di dalam suatu system social.

2.6    Perubahan kelembagaan

Perubahan kelembagaan mengandung arti pengaturan paling tidak salah satu dari batas jurisdiksi, hak kepemilikan, atau aturan representasi. Perubahan kelembagaan mempengaruhi pembangunan. Jika perubahan tersebut dapat mengontrol sumber interdependensi antar individu dalam hubungannya dengan komoditas yang dihasilkan. Sumber interdependensi tersebut merupakan siuasi yang didefinisikan sebagai karakteristik inheran yang melekat pda komoditas yang dibahas.

Menurut Schmidt (1987), situasi sebagai sumber interdependensi tersebut meliputi inkompatibilitas, ongkos eksklusi tinggi, skala ekonomi, join impact, ongkos transaksi, surplus interdependensi antar generasi.

2.7    Perubahan Sosial

Perubahan sosial sebagai suatu proses perubahan bentuk yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat, terjadi baik secara alami maupun karena rekayasa sosial. Pemahaman terhadap perubahan sosial, walaupun dilihat dari perspektif sosiologi, namun penerapan pendekatan multi-disipliner tidak diabaikan. Perubahan sosial sebetulnya merupakan suatu realitas yang majemuk, bukan realitas tunggal yang diakibatkan oleh dinamika masyarakat tertentu. Perubahan sosial adalah suatu betuk peradaban umat manusia akibat adanya eskalasi perubahan alam, biologis, fisik yang terjadi sepanjang kehidupanm manusia. Menurut Laur, 1982 (dalam kammeyer, Ritzer and Yetman, 1990 :637-639) perubahan sosial adalah

“variations over time in the relationship among individuals, groups, cultures and societies. Social change is pervasive; all- of social life is continually changing”

Dengan demikian perubahan sosial memiliki teba (scope) kejadian dari yang sederhana misalnya dalam lingkungan keluarga, sampai pada kejadian yang paling lengkap mencakup tarikan kekuatan kelembagaan dalam masayarakat.

2.8    Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah ysng merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkitan dengan budi dan akal. Definisi kebudayaan telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contohnya sebagai berikut.

  • Herskovits memandang kebudayaan sebagain sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganik
  • Andreas Eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan,, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religious, dan lain-lain ditambah lagi dengan segala pernyataan intelektual dan artistic yang menjadi ciri khas suatu masayarakat.
  • Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
  • Koentjaningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta dari hasil budi pekertinya.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan sebagai system pengetahuan yang meliputi system idea tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1  Jenis dan Sumber Data

Data-data yang digunakan dalam karya tulis ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain Badan Pusat Statistik (BPS). Penulis juga mendapatkan data dengan studi literatur dari media massa, media elektronik, dan berbagai jurnal yang mendukung penelitian penulis.

3.2    Analisis Data

BAB IV

PEMBAHASAN

1.1    Mistifikasi di kalangan masyarakat Indonesia

Adanya mistifikasi di kalangan rakyat Indonesia bukan begitu saja terjadi, jika kita menilik sejarah bangsa ini akan masuk akal bahwa bangsa ini masih banyak yang cenderung mempercayai hal-hal yang mistis. Indonesia pada zaman dahulu berbentuk kerajaan dan agama mayoritasnya yaitu Hindu. Dalam kerajaan tentu saja banyak upacara-upacara yang terjadi dan di agama Hindupun banyak upacara-upacara dan sesajen-sesajen. Dan pada saat agama Islam masuk ke Indonesia dan menjadi agama mayoritas, maka dengan adanya budaya yang dulu masih tertanam terkadang mewarnai budaya sekarang. Hal ini dapat terlihat dengan adanya pamali, upacara-upacara adat, dll. Dan hal tersebut juga berdampak pada pola pikir warga Indonesia yang sering mengaitkan sesuatu dengan hal-hal yang mistis mulai dari warg desa sampai dengan para petinggi Negara ini. Contohnya  saja pada beberapa waktu yang lalu ditemukan pohon yang aneh di salah satu rumah warga, pohon tersebut dapat mengeluarkan air yang sangat banyak, lalu warga tiap hari mandi ataupun meminum air tersebut mereka percaya dengan mandi dan meminum air tersebut dapat mendatangkan keberuntungan.

Para petinggi negeri ini pun sering melakukan mistifikasi politik. Mistifikasi politik adalah mengalihkan permasalahan yang nyata, rasional dan terukur menjadi persoalan yang kabur, mitos, penuh misteri, khurafat dan takhayyul, contohnya saja yaitu banyak pesantren-pesantren NU yang memelihara jin sebagai khadam (pelayan). Menjelang Muktamar di Cipasung di akhir 1994, dengan bangga panitia mengatakan bahwa jin akan disuruh mengamankan Muktamar. Bahkan menjelang pemilu 1999, seorang elite PKB menyatakan bahwa jin akan diikutsertakan dalam pemantauan pemilu, agar jalannya pemungutan dan per-hitungan suara jurdil. Dan mereka akan ditempatkan di TPS-TPS. Masih banyak lagi kasus-ksus yang terjadi di negeri ini yang sering dikaitkan dengan hal-hal yang mistis. Salah satu hal yang juga menjadi penyebab timbulnya mistifikasi dimana-mana yaitu tingkat pendidikan seseorang. Negara Indonesia sebagai Negara Dunia Ketiga yang dalam tingkat pendidikannya cenderung masih tertinggal jauh dengan Negara-negara maju memiliki peranan penting dalam terciptanya budaya mistifikasi. Semakin berpendidikan seseorang maka Ia akan semakin mengedepankan rasionalitas, bukan hanya takhayul, ataupun hal-hal yang bersifat mistis. Table tingkat pendidikan di Indonesia

Dengan maraknya mistifikasi, khususnya di daerah pedesaan yang memang tingkat pendidikan di desa masih tergolong rendah membuat proses-proses pembangunan menjadi terhambat.

1.2    Dampak mistifikasi dalam pembangunan

Merebaknya mistifikasi dimana-mana membuat pembangunan bagi Negara yang sedang membangun, khususnya Indonesia menjadi agak terhambat, hal ini dikarenakan dengan adanya mistifikasi dapat menjadikan pola pikir masyarakat menjadi condong ke arah yang mistis dan tidak rasional. Contoh kasusnya yaitu pada waktu ditemukannya seekor lele yang bentuknya seperti keris dan masyarakat langsung mengaitkan hal tersebut pada hal-hal yang mistis, seharusnya lele tersebut dapat dijadikan bahan penelitian sehingga dapat melahirkan sebuah ilmu pengetahuan bagi warga sekitar ataupun bagi masyarakat lain.

Dengan adanya mistifikasi membuat pembodohan pola pikir yang terjadi pada masyarakat. Pembangunan peertama-tama harus dilakukan perubahan paradigm atau pola pikir, dengan adanya perubahan paradigm nantinya kan dihasilkan teknologi-teknologi baru yang akan membuat sebuah peradaban baru. Merebaknya isu-isu yang dikaitkan dengan mistifikasi juga tidak lepas dari peran media massa. Media massa sering mengabarkan hal-hal yang berbau mistifikasi, sehingga banyak warga Indonesia juga mempunyai sudut pandang terhadap segala peristiwa yang dikaitkan dengan hal-hal yang mistis. Media massa sangat berperan dalam pembentukan pola pikir masyarakat, dengan membuat isu-isu yang dianggap penting ataupun menjadikan isu tersebut penting untuk diketengahkan

Contoh dari berita media massa yang masih mengetengahkan budaya mistifikasi

Beberapa hari terakhir, seiring dengan berjalannya proses hukum terhadap Syaukani HR, bupati Kutai Kartanegara yang terdakwa kasus korupsi, beritanya selalu menjadi headline di harian Tribun Kaltim dan Kaltim Post yang terbit di Balikpapan. Di antara berita utama tentang Syaukani yang dicetak dengan ukuran huruf yang besar itu, biasanya akan disisipkan berita pendek, tetapi kadang juga panjang, tentang ritual yang dilakukan oleh teman Syaukani, Ki Gendeng Pamungkas. Hari ini diberitakan, untuk menyerang lawan-lawan Syaukani yang sebelumnya adalah kawan yang kemudian berkhianat, Ki Gendeng melakukan ritual mencampur darahnya dengan darah gagak hitam untuk kemudian ditempelkan di pintu masuk ruang sidang. Jika selama ini Ki Gendeng hanya melindungi Syaukani dari niat-niat buruk dengan melakukan ritual ringan, misalnya menebar tanah kuburan di empat sudut ruang hakim, saat ini Ki Gendeng sudah berada di sequence menyerang lawan-lawan Syaukani secara terang-terangan. Berita ini menjadi headline di beberapa surat kabar seperti Kaltim Post dan Tribun Kaltim. Ada juga pemberitaan mengenai meninggalnya Soeharto yang selalu dikait-kaitkan dengan hal yang mistis ( Kabar Indonesia, 22 Mei 2010)

.

1.3    Perubahan pandangan dari mistifikasi ke scientifikasi dalam proses-proses pembangunan

Pandangan mistifikasi yang cenderung membodohkan masyarakat, harus kita ubah menjadi pandangan sceintifikasi yang menuntut adanya pola pikir rasional. Dengan adanya sceintifikasi mendorong adanya ilmu pengetahuan baru bahkan sampai teknologi baru. Perubahan paradigma mistifikasi ke scientifikasi menjadi salah satu factor yang dapat mempercepat pembangunan, khususnya dalam bidang pendidikan. Peranan berbagai stakeholders juga sangat dibutuhkan dalam perubahan paradigma mistifikasi ke scientifikasi. Pemerintah mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendorong perubahan ini, pemerintah hendaknya menjadi panutan dalam berlakunya scientifikasi. Peranan media massa juga sangatlah penting dalam mendorong proses-proses scientifikasi dengan tidak memberitakan sesuatu yang cenderung mistis, tetapi lebih banyak ilmu penegtahuannya. Dengan adanya proses scientifikasi bukan berarti kita tidak percaya lagi pada hal-hal yang mistis, karena hal-hal yang mistis atau bersifat gaib itu akan tetap ada, tetapi alangkah baiknya jika kita menggunakan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang membuat itu semua terjadi yang nantinya akan melahirkan sebuah ilmu pengetahuan. Dengan merubah budaya mistifikasi bukan berarti kita meninggalkan semua kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Kita hanya mencoba keep the good and throw the bad, kita menyimpan yang baik dan membuang yang tidak baik yang semua itu akan membuat Negara kita lebih maju dan memperlancar proses-proses pembangunan.

BAB V

PENUTUP

5.1    Kesimpulan

5.2    Saran

DAFTAR PUSTAKA

Ostorm, Elinor. 1992. Crafting Institutions for Self-Governing Irrigation Systems. San Fransisco, California: Institute for Contemporary Studies Press.

Pakpahan, A. 1990. Permasalahan dan Landasan Konseptual dalam Rekayasa Institusi (Koperasi). Makalah Seminar pada Pengkajian Masalah Perkoperasian Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Koperasi, Departemen Koperasi di Jakarta 23 Oktober 1990. Pusat Penelitian social Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. Bogor.

Rostow, W. W. 1960. The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto. In. J. Timmons Robert and Amy Hite (Eds). 2000. From Modernization to Globalization: Perspective on Development and Social Change. London: Blackwell Publisher Inc.

Schoorl, JW. 1980. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang. Jakarta: PT Gramedia.

Suwarsono, dan Alvin Y. So. 2000. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Herimanto dan Winarno. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya